Pengencer Dahak, Pelega Tenggorokan

Desain baru harus membuat koran tidak hanya mudah untuk jiwa dan pikiran, tetapi juga mudah untuk mata. Mario Garcia, CEO Garcia Media.

Saya menghabiskan empat hari penuh semangat demi merenungkan re-design front page Kendari Pos. Keinginan perwajahan baru itu cukup jelas, Bagaimana mengenali koran ini...bahkan sekalipun eksistensinya dalam sobekan kecil bungkus pecel.

Bukan cuma saya, semua kawan pekerja malam di kantor ini boleh jadi telah mengidam lama untuk “Pimp their Newspaper”. Rasanya kita kok berdosa sudah merampok Rp.3.500,- duit pelanggan setiap hari untuk tampilan suratkabar laksana karnaval itu.

Tapi seperti itulah..perdebatan sana-sini terus berlanjut, sarat keinginan, penuh kepentingan. Dan empat hari saya terpaksa menyia-nyiakan waktu, menerlantarkan istri tergolek pilek, Bunda was-was anaknya terbengkalai....untuk kesimpulan yang anjlok dari keinginan awal.

“Kita menjual berita, bukan desain!!”, sengit redaksi. Arghh!...kuciwa saya jadinya curhat panjang lebar soal tipografi, konsistensi warna turunan, hirarki, dan sebagainya. Kalo semisal beritanya diprint saja di kertas HVS lalu fotokopi banyak, bagaimana?

Opini seperti ini yang bikin John Bodette geeeram..geram...geram, Jim Chisholm mati kutu, Mario Garcia jatuh bangkrut. Boro-boro lagi mimpi beralih meninggalkan format broadsheet atau mengambil resiko belanja font di fontbureau.com seharga US$600 seperti yang dilakukan Tempo...

Sudahlah saya mengundurkan diri dari proyek. Istriku ayo diminum pengencer dahak pelega tenggorokannya!!