Milik Negara, Tidak Diperjualbelikan

Tempo hari, saya menemukan buku-buku ini di lemari buku bunda. Buku bacaan anak terbitan tahun 70-80 an, dengan label khasnya “Milik Negara. Tidak Diperdagangkan”. Saya banyak menghabiskan waktu dengan bacan-bacan semacam ini jaman masih SD dulu. Kebetulan Om saya seorang Penilik, jadi selalu ada bacaan baru menumpunk di rumah beliau. 


Salah satu bacaan yang paling berkesan adalah cerita petualangan anak-anak yang mencari ayam bekisar hingga ke Pulau Kangean. Saya lupa judulnya, yang jelas, setelah membacanya, saya jadi terobsesi memelihara ayam bekisar..huahahaha.

Menariknya, hampir semua bacaan tersebut bertema penyuluhan. Jika bukan soal budi-daya enceng gondok, beternak manila…ya.. propaganda keluarga berencana, mengapai cita-cita, mengasah keterampilan perbengkelan, pentingnya sekolah atau semangat membangun desa dan sebangsanyalah yang dikemas dalam cerita anak. 

Ini jaman kejayaan desa Sukamaju, Sukatani, Sukamiskin dan desa Suka bla..bla lainnya…dimana anak rakyat jelata mewujudkan mimpinya, pantang putus asa, dan ber-happy ending di balai desa bersama gemuruh tepuk tangan warga setelah Pak Kades menyampaikan pidato pujiannya.

Masa kejayaan itu sudah berlalu. Kemana perginya bacaan-bacaan tersebut? Terhimpit di rak perpustakaan sekolah. Anak-anak sekarang lebih suka terobsesi menjadi ninja Konoha ketimbang beternak ayam bekisar

Sejarah kejayaan bacaan anak tersebut ternyata punya cerita yang panjang. Baiklah mari memotongnya dari tengah saja. 

Ketika didirikan pada Mei 1950, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) hanya terdiri dari beberapa beberapa anggota saja. Kemudian keanggotaannya bertambah hampir 450 pada tahun 1966, tapi mengecil lagi menjadi hanya sekitar 80 anggota saja pada tahun 1973. Itu mencerminkan pasang-surut kegiatan penerbitan buku di Indonesia. 

Penyebabnya, banyak perusahaan penerbitan terpaksa gulung tikar, sebagian mengalihkan usaha ke bidang lain akibat Amukan inflasi, harga kertas mahal, jatah pemerintah ditiadakan. Keadaan ekonomi tersebut membuat beberapa penerbit lain-yang masih bertahan-enggan menerbitkan buku paket pelajaran..

Untuk meredam gejala tersebut, pemerintah membentuk proyek Paket Buku (1969) yang bertujuan menyediakan buku pelajaran bermutu untuk sekolah dan madrasah. Proyek itu kemudian dibantu oleh perjanjian kredit ($ 13,5 juta) dari Bank Dunia dan suplai kertas ($ 13 juta) dari Canadian International Development Agency (CIDA). Keduanya berlaku dari 1973 sampai 1980-81. 

Dep P & K, bertindak sebagai penerbit mengambil alih penerbitan buku pelajaran untuk subsidi sekolah. Persoalan buku pelajaran terselasaikan. Proyek tersebut sekaligus membanting penerbit swasta dengan mengambil alih porsi penerbitan buku pelajaran.

Ikapi kemudian memprotes perihal perampasan jatah tersebut. Tapi ibarat makanan, jatah tersebut sudah terlanjur dikunyah…masa’ mau dimuntahkan lagi? Berhubung pemerintah di jaman itu masih baik hati , maka diusulkanlah proyek Inpres untuk memulihkan iklim penerbitan swasta. 

Proyek Inpres dilaksanakan pada tahun 1974. Tujuannya adalah menyediakan buku bacaan sehat untuk Sekolah Dasar, dengan menyerahkan kepada pihak penerbit swasta untuk menerbitkan buku bacaan itu, dibawah pengawasan Dep. P & K.

Tidak diragukan lagi, proyek Inpres tersebut sukses merangsang minat baca anak-anak sekolah di jamannya. 40 juta buku dihasilkannya dengan biaya Rp 7,5 milyar. Sekaligus memicu tumbuhnya kegiatan penerbitan. Keanggotaan Ikapi melonjak dari 80 anggota menjadi 166 anggota. Di luar Ikapi, mungkin ada lebih banyak lagi penerbit kecil musiman yang ikut menikmati Proyek Inpres tersebut.

Pengarang-pengarang senior, seperti Suyadi, Alm. Kurnaen Wardiman, Djoko Lelono, Diah Ansori, Alm. Suyono, Dwianto Styawan, a. Adjib Hamzah serta pengarang-pengarang dadakan lainnya tak mau kalah bermunculan di sampul buku Inpres. 

Tak cukup sampai di situ, seniman lukis lokal pun ikut kecipratan proyek. Apa menariknya bacaan anak tanpa gambar. Ilustrasi pada bacaan anak tidak hanya semata-mata berfungsi untuk melengkapi teks, namun justru menjadi satu kesatuan dengan cerita. Menurut Murti Bunanta, salah seorang pengamat dan praktisi bacaan anak, setidaknya terdapat tiga peran ilustrasi bagi anak. Pertama, ilustrasi harus mampu memberi ruang pada anak untuk berimajinasi. Kedua, ilustrasi harus mampu menimbulkan rangsangan bagi anak untuk mengenal estetika. Dan terakhir, ilustrasi harus mampu memberi kenikmatan bagi anak yang membaca.

Periode ini juga menandai perjalanan desain grafis tanah air. Terlebih pada tahun 1980 an industri Cergam mengalami proses pertumbuhan mendampingi penerbitan buku Inpres. Gambar ilustrasi yang menyertai karya sastra Indonesia bukan hal baru. Karya sastra terbitan Balai Poestaka semasih zaman Belanda pun sudah berilustrasi. Juga, buku-buku keluaran penerbit buku sastra dan budaya serta cerita anak- anak PT Pustaka Jaya (berdiri di akhir 1960-an) berilustrasi. Setidaknya, bila di dalam tidak bergambar, buku-buku novel Pustaka Jaya bergambar pada kulit mukanya. Sebut saja gambar kulit muka novel Nh Dini, Pada Sebuah Kapal, yang dibuat oleh Pelukis Rusli. Lalu novel pendek Putu Wijaya, Telegram, gambar kulit mukanya dibuat oleh pelukis Nashar

Dipengaruhi komik import, cergam superhero yang bergaya kebarat-baratanpun bermunculan pada periode 70-80 an, seperti Hasmi dengan serial Gundala Putra Petir (adaptasi dari jagoan Amerika, Flash), Wid NS dengan serial Godam (terinspirasi Superman), Kus Br. dengan serial Laba-laba Merah (mirip dengan Spiderman) dan Djoni Andrean dengan serial Laba-laba Maut (mirip Spiderman, tapi dengan topeng wajah separuh terbuka). 

PS: Maaf…di paragraf sebelumnya, saya menulis komik dan cergam sebagai dua istilah berbeda. Perbedaan Cergam dan Komik adalah pada komposisi gambar dan tulisan, 
Komik umumnya dilengkapi dengan bingkai–bingkai secara juktaposisi/berjajar–
jajar, dialog dalam balon serta narasi yang saling merajut sebuah ceritera. Hal 
tersebut berbeda dengan Cergam yang memadukan dua elemen pentingnya yaitu
aspek visual (gambar) dan verbal (kata-kata), penyusunannya dapat 
juktaposisi/berjajar-jajar antar gambar dan tulisan ataupun memisahkan masing-
masing pada halaman tersendiri. Cergam dan Komik, di Indonesia telah
mengalami posisi naik turun, bahkan seringkali mendapat asosiasi kurang baik. 
Cergam dianggap dangkal, pemimpi dan tidak mendidik walaupun sesungguhnya
Cergam mampu menyajikan ceritera-ceritera yang tidak hanya mendidik dan
mudah dicerna, namun juga menambah intelektualitas, imajinatif dan juga
kreativitas.

Beberapa ilustrator bacaan anak kala itu bahkan mengadopsi gaya Kirby seperti karya Ened Rizaly yang saya temukan di salah satu buku berjudul Hari-Hari yang Indah karangan H. Sugianto. Beberapa karya seperti Majapahit oleh RA Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku pada masa itu.

Ilustrasi buku Gua Terlarang karya Suyadi dinilai sebagai ilustrasi terbaik untuk buku anak-anak pada Tahun Buku Internasional 1972. Sedangkan buku Made dan 4 Temannya, oleh IKAPI dinilai sebagai buku yang terbaik dari segi perwajahan untuk 1979. Siapa Suyadi? Argh! Suyadi yang ngarang si Unyil, yang memerankan Pak Raden, yang nggambar karakter keluarga Budi, iwan dan Wati (selebihnya cari di google saja)

Kembali ke proyek Inpres, 40 juta judul buku yang diterbitkan selama 3 tahun. ternyata masih jauh dari sukses meskipun sudah banyak disebar ke perpustakaan SD, perbandingan ideal 10 buku untuk satu anak masih belum tercapai. Bayangkan waktu itu saja ada 80.000 Sekolah Dasar! 

Indonesia tetaplah Indonesia… Isu pungli proyek Inpres menjadi alasan beberapa penerbit enggan melanjutkan proyek Inpres untuk 3 tahun berikutnya. Berbagai cerita burung beredar tentang adanya permainan dalam pemilihan buku-buku tersebut. Menteri P dan K ad interim waktu itu, Umar Ali, mengatakan bahwa dengan adanya Inpres itu untuk membangkitkan gairah penerbit nasional. Ternyata, kebanyakan buku yang dipilih panitia adalah terbitan para penerbit "musiman" yang baru didirikan untuk menampung durian runtuh dari proyek Inpres. Penerbit serius yang punya itikad baik merasa dipecundangi

Desas-desus pun timbul: Seorang kacung berjiwa wiraswasta yang bekerja di sebuah penerbit di Bandung, setelah mengerti selukbeluk tender buku pelajaran untuk SD, menyusun sebuah buku atas namanya sendiri walaupun dia sendiri tak pernah tamat SD. Ternyata, buku ini plagiat dari buku lain yang sudah beredar. Entah bagaimana kelanjutan ceritanya. Pemerintah mengalihkan proyek tersebut pada PN. Balai Pustaka dan beberapa penerbit penjilat lainnya (mungkin)

Penerbit swasta memilih cabut dari proyek dan menjalankan proyek masing-masing. Banyak penerbit lebih memilih karya terjemahan dengan alasan ekonomis. Jadilah kita tamu di negeri sendiri. Bejibun karya terjemahan hadir, lihat saja Seri Pustaka Kecil Disney yang terbit 29 judul (al: Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan 7 Orang Kerdil), delapan judul Seri Petualanganmu yang Pertama, (antara lain: Burung Hantu Kecil Meninggalkan Sarang, Kelinci Kecil Bermain dengan Adik, Ulang Tahun Babi Kecil) oleh Marcia Leonard, 12 judul Seri Boneka Binatang (antara lain: Bello Naik balon Udara, Bello Mendapat Sahabat, Bello Punya Kapal Selam) oleh Tony Wolf, enam judul Seri Jennings oleh Anthony A. Buckeridge, tiga judul Seri Adikku yang Nakal oleh Dorothy Edwards.

Begitulah, karya-karya terjemahan tersebut telah menenggelamkan karya-karya sastra lokal yang saya ceritakan di awal postingan tadi. Kebanyakan hanya menghuni rak-rak perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi pemerintah melalui program Inpres. 

Adapun nasib Balai Pustaka sendiri mungkin sudah termakan kutukan. Semakin terabaikan oleh pemerintah. Perusahaan ini kemana sih? Mari doakan saja semoga PN Balai Pustaka bangkit lagi. Semoga kelak kita bisa membaca himbauan di sampul buku paket bertuliskan: Rawatlah buku ini baik-baik, tahun depan adikmu yang akan menggunakannya. Sebaiknya memang begitu….










Milik Negara, Tidak Diperjualbelikan

Tempo hari, saya menemukan buku-buku ini di lemari buku bunda. Buku bacaan anak terbitan tahun 70-80 an, dengan label khasnya “Milik Negara. Tidak Diperdagangkan”. Saya banyak menghabiskan waktu dengan bacan-bacan semacam ini jaman masih SD dulu. Kebetulan Om saya seorang Penilik, jadi selalu ada bacaan baru menumpunk di rumah beliau. 


Salah satu bacaan yang paling berkesan adalah cerita petualangan anak-anak yang mencari ayam bekisar hingga ke Pulau Kangean. Saya lupa judulnya, yang jelas, setelah membacanya, saya jadi terobsesi memelihara ayam bekisar..huahahaha.

Menariknya, hampir semua bacaan tersebut bertema penyuluhan. Jika bukan soal budi-daya enceng gondok, beternak manila…ya.. propaganda keluarga berencana, mengapai cita-cita, mengasah keterampilan perbengkelan, pentingnya sekolah atau semangat membangun desa dan sebangsanyalah yang dikemas dalam cerita anak. 

Ini jaman kejayaan desa Sukamaju, Sukatani, Sukamiskin dan desa Suka bla..bla lainnya…dimana anak rakyat jelata mewujudkan mimpinya, pantang putus asa, dan ber-happy ending di balai desa bersama gemuruh tepuk tangan warga setelah Pak Kades menyampaikan pidato pujiannya.

Masa kejayaan itu sudah berlalu. Kemana perginya bacaan-bacaan tersebut? Terhimpit di rak perpustakaan sekolah. Anak-anak sekarang lebih suka terobsesi menjadi ninja Konoha ketimbang beternak ayam bekisar

Sejarah kejayaan bacaan anak tersebut ternyata punya cerita yang panjang. Baiklah mari memotongnya dari tengah saja. 

Ketika didirikan pada Mei 1950, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) hanya terdiri dari beberapa beberapa anggota saja. Kemudian keanggotaannya bertambah hampir 450 pada tahun 1966, tapi mengecil lagi menjadi hanya sekitar 80 anggota saja pada tahun 1973. Itu mencerminkan pasang-surut kegiatan penerbitan buku di Indonesia. 

Penyebabnya, banyak perusahaan penerbitan terpaksa gulung tikar, sebagian mengalihkan usaha ke bidang lain akibat Amukan inflasi, harga kertas mahal, jatah pemerintah ditiadakan. Keadaan ekonomi tersebut membuat beberapa penerbit lain-yang masih bertahan-enggan menerbitkan buku paket pelajaran..

Untuk meredam gejala tersebut, pemerintah membentuk proyek Paket Buku (1969) yang bertujuan menyediakan buku pelajaran bermutu untuk sekolah dan madrasah. Proyek itu kemudian dibantu oleh perjanjian kredit ($ 13,5 juta) dari Bank Dunia dan suplai kertas ($ 13 juta) dari Canadian International Development Agency (CIDA). Keduanya berlaku dari 1973 sampai 1980-81. 

Dep P & K, bertindak sebagai penerbit mengambil alih penerbitan buku pelajaran untuk subsidi sekolah. Persoalan buku pelajaran terselasaikan. Proyek tersebut sekaligus membanting penerbit swasta dengan mengambil alih porsi penerbitan buku pelajaran.

Ikapi kemudian memprotes perihal perampasan jatah tersebut. Tapi ibarat makanan, jatah tersebut sudah terlanjur dikunyah…masa’ mau dimuntahkan lagi? Berhubung pemerintah di jaman itu masih baik hati , maka diusulkanlah proyek Inpres untuk memulihkan iklim penerbitan swasta. 

Proyek Inpres dilaksanakan pada tahun 1974. Tujuannya adalah menyediakan buku bacaan sehat untuk Sekolah Dasar, dengan menyerahkan kepada pihak penerbit swasta untuk menerbitkan buku bacaan itu, dibawah pengawasan Dep. P & K.

Tidak diragukan lagi, proyek Inpres tersebut sukses merangsang minat baca anak-anak sekolah di jamannya. 40 juta buku dihasilkannya dengan biaya Rp 7,5 milyar. Sekaligus memicu tumbuhnya kegiatan penerbitan. Keanggotaan Ikapi melonjak dari 80 anggota menjadi 166 anggota. Di luar Ikapi, mungkin ada lebih banyak lagi penerbit kecil musiman yang ikut menikmati Proyek Inpres tersebut.

Pengarang-pengarang senior, seperti Suyadi, Alm. Kurnaen Wardiman, Djoko Lelono, Diah Ansori, Alm. Suyono, Dwianto Styawan, a. Adjib Hamzah serta pengarang-pengarang dadakan lainnya tak mau kalah bermunculan di sampul buku Inpres. 

Tak cukup sampai di situ, seniman lukis lokal pun ikut kecipratan proyek. Apa menariknya bacaan anak tanpa gambar. Ilustrasi pada bacaan anak tidak hanya semata-mata berfungsi untuk melengkapi teks, namun justru menjadi satu kesatuan dengan cerita. Menurut Murti Bunanta, salah seorang pengamat dan praktisi bacaan anak, setidaknya terdapat tiga peran ilustrasi bagi anak. Pertama, ilustrasi harus mampu memberi ruang pada anak untuk berimajinasi. Kedua, ilustrasi harus mampu menimbulkan rangsangan bagi anak untuk mengenal estetika. Dan terakhir, ilustrasi harus mampu memberi kenikmatan bagi anak yang membaca.

Periode ini juga menandai perjalanan desain grafis tanah air. Terlebih pada tahun 1980 an industri Cergam mengalami proses pertumbuhan mendampingi penerbitan buku Inpres. Gambar ilustrasi yang menyertai karya sastra Indonesia bukan hal baru. Karya sastra terbitan Balai Poestaka semasih zaman Belanda pun sudah berilustrasi. Juga, buku-buku keluaran penerbit buku sastra dan budaya serta cerita anak- anak PT Pustaka Jaya (berdiri di akhir 1960-an) berilustrasi. Setidaknya, bila di dalam tidak bergambar, buku-buku novel Pustaka Jaya bergambar pada kulit mukanya. Sebut saja gambar kulit muka novel Nh Dini, Pada Sebuah Kapal, yang dibuat oleh Pelukis Rusli. Lalu novel pendek Putu Wijaya, Telegram, gambar kulit mukanya dibuat oleh pelukis Nashar

Dipengaruhi komik import, cergam superhero yang bergaya kebarat-baratanpun bermunculan pada periode 70-80 an, seperti Hasmi dengan serial Gundala Putra Petir (adaptasi dari jagoan Amerika, Flash), Wid NS dengan serial Godam (terinspirasi Superman), Kus Br. dengan serial Laba-laba Merah (mirip dengan Spiderman) dan Djoni Andrean dengan serial Laba-laba Maut (mirip Spiderman, tapi dengan topeng wajah separuh terbuka). 

PS: Maaf…di paragraf sebelumnya, saya menulis komik dan cergam sebagai dua istilah berbeda. Perbedaan Cergam dan Komik adalah pada komposisi gambar dan tulisan, 
Komik umumnya dilengkapi dengan bingkai–bingkai secara juktaposisi/berjajar–
jajar, dialog dalam balon serta narasi yang saling merajut sebuah ceritera. Hal 
tersebut berbeda dengan Cergam yang memadukan dua elemen pentingnya yaitu
aspek visual (gambar) dan verbal (kata-kata), penyusunannya dapat 
juktaposisi/berjajar-jajar antar gambar dan tulisan ataupun memisahkan masing-
masing pada halaman tersendiri. Cergam dan Komik, di Indonesia telah
mengalami posisi naik turun, bahkan seringkali mendapat asosiasi kurang baik. 
Cergam dianggap dangkal, pemimpi dan tidak mendidik walaupun sesungguhnya
Cergam mampu menyajikan ceritera-ceritera yang tidak hanya mendidik dan
mudah dicerna, namun juga menambah intelektualitas, imajinatif dan juga
kreativitas.

Beberapa ilustrator bacaan anak kala itu bahkan mengadopsi gaya Kirby seperti karya Ened Rizaly yang saya temukan di salah satu buku berjudul Hari-Hari yang Indah karangan H. Sugianto. Beberapa karya seperti Majapahit oleh RA Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku pada masa itu.

Ilustrasi buku Gua Terlarang karya Suyadi dinilai sebagai ilustrasi terbaik untuk buku anak-anak pada Tahun Buku Internasional 1972. Sedangkan buku Made dan 4 Temannya, oleh IKAPI dinilai sebagai buku yang terbaik dari segi perwajahan untuk 1979. Siapa Suyadi? Argh! Suyadi yang ngarang si Unyil, yang memerankan Pak Raden, yang nggambar karakter keluarga Budi, iwan dan Wati (selebihnya cari di google saja)

Kembali ke proyek Inpres, 40 juta judul buku yang diterbitkan selama 3 tahun. ternyata masih jauh dari sukses meskipun sudah banyak disebar ke perpustakaan SD, perbandingan ideal 10 buku untuk satu anak masih belum tercapai. Bayangkan waktu itu saja ada 80.000 Sekolah Dasar! 

Indonesia tetaplah Indonesia… Isu pungli proyek Inpres menjadi alasan beberapa penerbit enggan melanjutkan proyek Inpres untuk 3 tahun berikutnya. Berbagai cerita burung beredar tentang adanya permainan dalam pemilihan buku-buku tersebut. Menteri P dan K ad interim waktu itu, Umar Ali, mengatakan bahwa dengan adanya Inpres itu untuk membangkitkan gairah penerbit nasional. Ternyata, kebanyakan buku yang dipilih panitia adalah terbitan para penerbit "musiman" yang baru didirikan untuk menampung durian runtuh dari proyek Inpres. Penerbit serius yang punya itikad baik merasa dipecundangi

Desas-desus pun timbul: Seorang kacung berjiwa wiraswasta yang bekerja di sebuah penerbit di Bandung, setelah mengerti selukbeluk tender buku pelajaran untuk SD, menyusun sebuah buku atas namanya sendiri walaupun dia sendiri tak pernah tamat SD. Ternyata, buku ini plagiat dari buku lain yang sudah beredar. Entah bagaimana kelanjutan ceritanya. Pemerintah mengalihkan proyek tersebut pada PN. Balai Pustaka dan beberapa penerbit penjilat lainnya (mungkin)

Penerbit swasta memilih cabut dari proyek dan menjalankan proyek masing-masing. Banyak penerbit lebih memilih karya terjemahan dengan alasan ekonomis. Jadilah kita tamu di negeri sendiri. Bejibun karya terjemahan hadir, lihat saja Seri Pustaka Kecil Disney yang terbit 29 judul (al: Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan 7 Orang Kerdil), delapan judul Seri Petualanganmu yang Pertama, (antara lain: Burung Hantu Kecil Meninggalkan Sarang, Kelinci Kecil Bermain dengan Adik, Ulang Tahun Babi Kecil) oleh Marcia Leonard, 12 judul Seri Boneka Binatang (antara lain: Bello Naik balon Udara, Bello Mendapat Sahabat, Bello Punya Kapal Selam) oleh Tony Wolf, enam judul Seri Jennings oleh Anthony A. Buckeridge, tiga judul Seri Adikku yang Nakal oleh Dorothy Edwards.

Begitulah, karya-karya terjemahan tersebut telah menenggelamkan karya-karya sastra lokal yang saya ceritakan di awal postingan tadi. Kebanyakan hanya menghuni rak-rak perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi pemerintah melalui program Inpres. 

Adapun nasib Balai Pustaka sendiri mungkin sudah termakan kutukan. Semakin terabaikan oleh pemerintah. Perusahaan ini kemana sih? Mari doakan saja semoga PN Balai Pustaka bangkit lagi. Semoga kelak kita bisa membaca himbauan di sampul buku paket bertuliskan: Rawatlah buku ini baik-baik, tahun depan adikmu yang akan menggunakannya. Sebaiknya memang begitu….










Laporan Pandangan Mata

Pukul 04:lewat...
Pagi yang menggemaskan. Saya harus menggesek-gesekkan kaki ke lantai berapa kali...sekedar meyakinkan diri bahwa masih menjejak bumi. Pasalnya..Babol nyetel album Ratih Purwasih...Argh...sampai matahari terbit kayaknya itu, sempat mengintip playlistnya yang panjang bersusun-susun.

Lagu ini.....serasa berada di anjungan kapal "Imalombassi", Sandar di pelabuhan Raha, Pedagang Gogos, telur masak, hilir mudik di atas kapal....

vocoder

Ingat lagu “Believe” nya Cher yang populer di tahun 1998 dulu? Atau "Only God Knows Why" nya Kid Rock? “One More Time” nya Daft Punk?

Semuanya sama-sama menggunakan efek vocal robotic. Cara bernyayi aneh yang kedengarannya…seperti bernyanyi sambil men detti-detti jakun. Efek suara ini dihasilkan melalui proses pitch correction (Auto-tune). Gaya bernyanyi aneh tersebut dikenal dengan vocoder.

Sebenarnya vocoder itu sendiri adalah nama alat yang digunakan untuk menggabungkan sinyal. Istilah yang biasa dipakai oleh dunia telekomunikasi. Prinsip kerjanya menggabungkan sinyal carrier dan sinyal modulator. Sinyal carrier adalah suara asli dari vocal (penyanyi), sedangkan sinyal modulator bisa berasal dari apa aja sebagai "pengacak" sinyal asli, biasanya berupa satu line dari synthesizer. Unit vocoder kemudian memproses sinyal carrier dengan sinyal modulator untuk menghasilkan suara aneh kayak orang keselek pipa pralon itu..

Nah…semalam, secara tidak sengaja, saya menemukan teknik sederhana untuk menghasilkan efek suara yang sama. Sebaiknya segera dipatenkan deh…sebelum Syaiful Tamburaka mencuri ide brilian ini.

Cerita lengkapnya begini….Semalam, pulang dari main Golf, badan terasa pegal-pegal…Lalu istri saya yang baik hati dan tidak sombong lagi penuh kasih sayang itu…dengan sigap, mengambil alat pijat elektronik lumba-lumba (Menutupi ketidak-jagoannya memijat manual ala tuna-netra)…

Vibratornya disetel mode full dan mulailah si lumba-lumba bergerilya di punggung. Proses pijat-memijat itu dilakukan sembari ngobrol…dan eureka!!!

Suara saya terdistorsi oleh getaran si lumba-lumba….jadi terdengar seperti alien.
“Halo mahluk bumi…kami dari planet Bukuanus Lembanus…akan menginvasi planet ini. Tapi jangan kuatir…kami bukan yahudi”

Pikir punya pikir, terbersitlah ide cemerlang….kalo dipijet lumba-lumba sambil nyanyi ternyata vocalnya nda jauh beda sama Kid Rock..

Oh..iya…kalo alat pijat lumba-lumbanya ditaruh diubun-ubun, ternyata bisa memberi visual nyata situasi gempa bumi juga.

Sekian saja dulu informasinya….saya tidak berani berfantasi lebih jauh mengenai kegunaan lumba-lumba bergetar itu…selamat mencoba dan mengembangkan ide sendiri.....

Pengencer Dahak, Pelega Tenggorokan

Desain baru harus membuat koran tidak hanya mudah untuk jiwa dan pikiran, tetapi juga mudah untuk mata. Mario Garcia, CEO Garcia Media.

Saya menghabiskan empat hari penuh semangat demi merenungkan re-design front page Kendari Pos. Keinginan perwajahan baru itu cukup jelas, Bagaimana mengenali koran ini...bahkan sekalipun eksistensinya dalam sobekan kecil bungkus pecel.

Bukan cuma saya, semua kawan pekerja malam di kantor ini boleh jadi telah mengidam lama untuk “Pimp their Newspaper”. Rasanya kita kok berdosa sudah merampok Rp.3.500,- duit pelanggan setiap hari untuk tampilan suratkabar laksana karnaval itu.

Tapi seperti itulah..perdebatan sana-sini terus berlanjut, sarat keinginan, penuh kepentingan. Dan empat hari saya terpaksa menyia-nyiakan waktu, menerlantarkan istri tergolek pilek, Bunda was-was anaknya terbengkalai....untuk kesimpulan yang anjlok dari keinginan awal.

“Kita menjual berita, bukan desain!!”, sengit redaksi. Arghh!...kuciwa saya jadinya curhat panjang lebar soal tipografi, konsistensi warna turunan, hirarki, dan sebagainya. Kalo semisal beritanya diprint saja di kertas HVS lalu fotokopi banyak, bagaimana?

Opini seperti ini yang bikin John Bodette geeeram..geram...geram, Jim Chisholm mati kutu, Mario Garcia jatuh bangkrut. Boro-boro lagi mimpi beralih meninggalkan format broadsheet atau mengambil resiko belanja font di fontbureau.com seharga US$600 seperti yang dilakukan Tempo...

Sudahlah saya mengundurkan diri dari proyek. Istriku ayo diminum pengencer dahak pelega tenggorokannya!!